Saturday, April 4, 2015

Eritrosit dan Hemoglobin

Advertisement

Eritrosit atau sel darah merah adalah sel darah yang berperan dalam pengangkutan O2 dalam tubuh. Tubuh orang dewasa memiliki sekitar 5 liter darah dan di dalamnya terdapat sekitar 25 triliun eritrosit. Jumlah eritrosit dalam 1 mm3 darah adalah sekitar 5-6 juta sel. Eritrosit dibutuhkan dalam jumlah banyak agar dapat membawa O2 ke seluruh bagian tubuh yang membutuhkan. Molekul O2 terikat dalam hemoglobin pada eritrosit, hemoglobin merupakan molekul yang mengandung besi (Fe) dan pembentukannya sangat dipengaruhi oleh kadar zat besi di dalam tubuh. Kekurangan zat besi dapat menyebabkan produksi hemoglobin terganggu dan menyebabkan anemia.

Bentuk eritrosit yang cekung di kedua sisinya.

Eritrosit memiliki bentuk bikonkav (cekung di kedua sisinya), bentuk ini menyebabkan luas permukaan selnya menjadi lebih tinggi dan mempermudah pengikatan O2. Eritrosit matang tidak memiliki nukleus dan organel sel lainnya, mereka hanya tersusun atas membran sel yang didalamnya terdapat sitoplasma. Tidak adanya organel sel bertujuan untuk memaksimalkan ruang bagi hemoglobin. Karena tidak ada mitokondria, kebutuhan energi eritrosit dipenuhi dengan melakukan respirasi anaerob dalam sitoplasma.

Setiap molekul hemoglobin mampu mengikat 4 molekul O2. Setiap sel eritrosit mengandung sekitar 250 juta hemoglobin, jadi setiap sel eritrosit dapat mmengikat sekitar 1 milyar molekul O2. Eritrosit berumur 120 hari dan dibentuk di sum-sum merah tulang, terutama tulang dada, rusuk, dan tulang belakang. Eritrosit yang telah tua akan dirombak di dalam hati dan diubah menjadi pigmen empedu. Molekul Fe dalam hemoglobin akan diserap kembali dan digunakan untuk pembentukan hemoglobin baru.

Orang yang tinggal di daerah dataran tinggi memiliki jumlah eritrosit yang lebih banyak dibandingkan orang yang tinggal di daerah dataran rendah. Dataran tinggi memiliki kadar O2 yang lebih rendah sehingga memicu tubuh untuk membentuk eritrosit lebih banyak. Bila tubuh mendeteksi jumlah O2 yang sedikit, ginjal akan memproduksi hormone eritropoietin yang memicu terjadinya pembentukan eritrosit baru.

Hemoglobin dapat mengalami kelainan genetik yang disebut penyakit sickle-cell atau sel bulan sabit. Penyakit ini menyebabkan bentuk abnormal pada hemoglobin yang akan terakumulasi dalam eritrosit dan menjadikan bentuk eritrosit menjadi seperti bulan sabit. Karena bentuknya tidak normal, eritrosit bulan sabit dapat menggumpal di dalam pembuluh kapiler dan menyebabkan aliran darah menjadi terhambat. Penyumbatan dapat mengakibatkan pembengkakan organ dan munculnya rasa yang sangat sakit. Eritrosit abnormal tersebut dapat bertahan hidup sekitar 20 hari, lebih pendek dibandingkan eritrosit normal.

0 komentar

Post a Comment