Tuesday, December 15, 2015

Empat Tahap Pencernaan Makanan

Advertisement

Manusia dan hewan membutuhkan makanan agar dapat tumbuh berkembang dan bertahan hidup. Berdasarkan makanannya, hewan dapat dikelompokkan menjadi karnivora (pemakan daging), herbivora (pemakan tumbuhan), dan omnivora (pemakan daging dan tumbuhan). Walaupun jenis makanannya berbeda-beda, hewan memiliki tahapan pencernaan makanan yang serupa. Pencernaan makanan dilakukan melalui empat langkah yang berurutan, yaitu ingestion (memasukkan makanan), digestion (pencernaan makanan), absorbtion (penyerapan makanan), dan elimination (pembuangan sisa makanan).

Ingestion


Proses ingestion berkaitan dengan kegiatan makan pada hewan. Hewan memiliki cara yang berbeda-beda dalam cara memakan makanannya. Protozoa atau hewan bersel satu seperti Amoeba memakan partikel makanan dengan cara fagositosis dan membungkus makanan dalam bentuk vakuola makanan. Enzim-enzim pencernaan akan menghancurkan makanan dalam vakuola tersebut sehingga hasilnya dapat diserap dan digunakan oleh sel.

ular makan
Ular dapat menelan mangsa yang lebih besar dari ukuran tubuhnya

Harimau dan karnivora lainnya memakan bagian tubuh mangsanya sedikit demi sedikit. Dengan kuku dan taringnya yang tajam, mereka akan mengoyak daging mangsanya dan memakan bagian yang dapat ditelannya. Sedangkan manusia dan hewan herbivora, akan mengunyah terlebih dahulu makananya agar lebih mudah dicerna oleh enzim pencernaan. Manusia dan herbivora memiliki gigi geraham yang kuat yang memungkinkannya untuk menghaluskan bagian makanan yang akan ditelannya.

Paus dan hiu paus termodifikasi untuk memakan makanan berupa plankton dan hewan kecil lainnya yang terdapat di perairan. Mereka memiliki semacam saringan dalam mulutnya untuk mempermudah menjerat dan memakan hewan-hewan kecil tersebut. Hewan-hewan yang memakan dengan cara ini disebut sebagai pemakan suspensi.

Ular memiliki cara makan yang lebih unik. Mereka akan memakan mangsanya utuh-utuh walaupun ukuran mangsanya jauh lebih besar dari ukuran tubuhnya. Ular memiliki struktur rahang bawah yang fleksibel sehingga memungkinkan rahangnya membuka sangat lebar untuk menelan mangsa yang berukuran besar.

Tidak semua hewan memakan makanan dalam bentuk padat. Nyamuk misalnya, merupakan hewan pemakan darah (untuk nyamuk betina) dan nektar bunga (untuk nyamuk jantan). Mereka dipersenjatai dengan mulut penusuk yang menjadikannya dapat menembus kulit hewan lain dan menghisap darahnya. Ketika menghisap darah, nyamuk juga mengeluarkan cairan anti pembekuan darah untuk mencegah darah yang dihisap menggumpal.

Digestion


Digestion adalah proses pencernaan makanan yang terjadi dalam tubuh hewan. Proses pencernaan terjadi secara mekanik dan kimiawi. Pencernaan mekanik dilakukan dengan mencabik atau mengunyah makanan sehingga berubah menjadi lebih kecil. Makanan yang telah dikunyah akan lebih mudah tercerna oleh enzim-enzim pencernaan dalam saluran pencernaannya. Pencernaan kimiawi dibantu oleh serangkaian enzim pencernaan. Enzim-enzim ini bekerja untuk memecah partikel makanan menjadi komponen-komponen penyusunnya.

geraham herbivora
Herbivora memiliki gigi geraham untuk menghaluskan makanan

Molekul protein, karbohidrat, dan lemak memiliki ukuran yang besar dan tidak dapat menembus membran sel secara langsung. Oleh karena itu molekul-molekul tersebut perlu dipecah menjadi komponen-komponen penyusunnya yang berukuran lebih kecil sehingga dapat melewati membran sel dan di bagikan ke seluruh bagian tubuh yang membutuhkan.

Enzim-enzim protease akan memecah protein menjadi asam amino, lipase akan memecah lemak menjadi asam lemak dan gliserol. Sedangkan karbohidrat akan dipecah oleh amilase menjadi maltose, kemudian maltose dipecah oleh disakaridase menjadi molekul glukosa. Pencernaan kimiawi terjadi mulai dari mulut, lambung, hingga usus halus.

Absorbtion


Absorbtion merupakan proses penyerapan hasil pencernaan makanan. Penyarapan terjadi di usus halus melalui permukaan dalam usus halus. Untuk memaksimalkan kemampuan penyerapan nutrisi, dinding dalam usus halus dipenuhi dengan tonjolan-tonjolan atau jonjot usus atau vili untuk memperluas bidang penyerapan.

vili usus halus
Jonjot usus (vili) pada usus halus

Nutrisi makanan yang telah melewati membran usus halus akan masuk pembuluh darah untuk selanjutnya diedarkan ke seluruh bagian tubuh yang membutuhkan. Asam amino, asam lemak, monosakarida, vitamin, dan mineral akan digunakan sebagai bahan pembangun tubuh, sumber energi, pembangun enzim, dan hormon.

Air yang terkandung dalam makanan juga akan diserap oleh tubuh, selain di serap di usus halus, sebagian besar air akan diserap di usus besar. Penyerpan air penting dalam proses memadatkan feses, karena feses yang terlalu banyak mengandung air justru tidak normal bagi tubuh (seperti pada kasus diare).

Bahan-bahan makanan yang tidak diserap akan dibuang dalam bentuk feses. Komponen utama feses adalah serat-serat yang terkandung dalam makanan. Sumber makanan nabati mengandung serat yang lebih banyak dibandingkan sumber makanan hewani. Feses dalam usus besar akan dibusukkan oleh bakteri-bakteri usus yang disebut sebagai flora normal usus. Bakteri ini akan membusukkan dan melunakkan feses sehingga lebh mudah dikeluarkan dari tubuh.  Bakteri dalam usus besar menghasilkan vitamin K yang berguna bagi tubuh, selain itu juga dihasilkan gas-gas yang akan keluar dalam bentuk kentut (flatus).

Elimination


Dalam tahapan ini sisa makanan akan dikeluarkan dan dibuang dari tubuh. Sisa makanan dalam bentuk padat akan dikeluarkan dalam bentuk feses. Sedangkan sisa metabolisme tubuh dalam bentuk cair akan dikeluarkan dalam bentuk urin. Feses terlebih dahulu dikumpulkan dalam rektum, sedangkan urin akan dikumpulkan dalam kandung kemih.

rektum pada manusia
Rektum pada manusia

Warna kekuningan dalam feses dan urin berasal dari pigmen empedu yang dihasilkan hati. Pigmen empedu merupakan hasil perombakan hemoglobin yang telah tua dan rusak. Cairan empedu sangat penting bagi pencernaan karena dapat menurunkan tegangan permukaan cairan dan mempermudah emulsi lemak.

0 komentar

Post a Comment