Tuesday, November 24, 2015

Mekanisme Aksi Antibiotik Melawan Mikroorganisme

Advertisement

Antibiotik merupakan senyawa yang dihasilkan oleh mikrorganisme yang dapat menekan pertumbuhan atau membunuh mikroorganisme lain dalam konsentrasi yang sangat rendah. Antibiotik dalam dunia kedokteran digunakan untuk melawan berbagai penyakit yang disebabkan oleh inveksi bakteri. Penemuan antibiotik merupakan peristiwa yang penting dan dianggap sebagai penemuan terbesar pada abad 20 dalam dunia kedokteran.

Sebelum antibiotik ditemukan, Dokter di seluruh dunia mengalami kesulitan dalam menyembuhkan penyakit yang disebabkan inveksi bakteri. Misalnya, luka kecil saja dapat menyebabkan inveksi yang menyebar ke berbagai bagian tubuh dan menyebabkan kematian. Antibiotik merupakan obat-obatan yang paling sering digunakan di seluruh dunia, terutama di negara-negara berkembang dan negara miskin. Di negara-negara tersebut, gaya hidup yang kurang sehat dari masyarakatnya menyebabkan berbagai mikroorganisme dengan mudah menjangkiti tubuh.

penicillium
Penicillium sp. penghasil antibiotik penicillin

Fleming pada tahun 1929, menemukan antibiotik pertama yang disebut dengan penicillin. Dinamakan penicillin karena antibiotik tersebut dihasilkan oleh kapang dari jenis Penicillium notatum. Fleming menumbuhkan Penicillium dalam cawan perti dan melakukan pengamatan, ternyata di sekitar kapang tersebut tidak ditumbuhi koloni bakteri, padahal di wilayah petri yang lain ditumbuhi koloni bakteri. Dari situ Fleming menyimpulkan bahwa Penicillium menghasilkan senyawa yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri sehingga tidak dapat tumbuh di sekitar kapang penicillium.

Dunia kedokteran modern mengenal berbagai macam antibiotik yang memiliki fungsi sama yaitu “melawan mikroorganisme”. Namun dengan mekanisme aksi atau kerja yang berlainan. Macam-macam mekanisme aksi antibiotik adalah sebagai berikut.
  • Menghambat sintesis dinding sel. Antibiotik yang memiliki kemampuan menghambat pembentukan dinding sel mikroorganisme antara lain penicillin, cephalosporin, cycloserine, vancomycin, dan bacitracin.
  • Merusak membran sel. Antibiotik yang bekerja dengan membentuk lubang dan merusak membran sel antara lain colistin, polymixin, amphotericin B, bacitracin, nystatin, dan hamycin.
  • Menyebabkan kesalahan pembacaan kode m-RNA dan mengganggu permeabilitas. Kesalahan dalam pembacaan m-RNA dapat menyebabkan kesalahan dalam protein yang dibentuk mikroorganisme sehingga dapat mematikan mikroorganisme tersebut. Antibiotik yang memiliki kemampuan ini adalah streptomycin dan gentamicin.
  • Menghambat sintesis protein. Antibiotik yang bekerja dengan menghambat sintesis protein mikroorganisme antara lain tetracycline, chloramphenicol, erythromycin, clindamycin, dan linezolid.
  • Menghambat DNA girase. DNA girase merupakan enzim yang berperan dalam replikasi (penggandaan) DNA eukariotik, gangguan dalam penggandaan DNA menyebabkan mikroorganisme tidak dapat memperbanyak diri. Antibiotik yang bekerja dengan cara ini antara lain ciprofloxacin.
  • Mengganggu fungsi DNA. Antibiotik yang bekerja dengan cara ini antara lain rifampin dan metronidazole.
  • Mengganggu sintesis DNA. Antibiotik yang mengganggu pembentukan DNA antara lain acyclovir dan zidovudine.
  • Mengganggu metabolisme. Antibiotik ini dapat menganggu metabolisme dan menyebabkan kematian mikroorganimse tersebut. Antibiotik yang memiliki aksi ini antara lain sulfonamides, sulfones, PAS, trimethoprim, pyrimethamine, dan ethambutol. 

0 komentar

Post a Comment